Tradisi Kejam Terhadap Wanita Suku Pedalaman

Seperti yang kita tahu bahwa sudah sejak lama Hak Asasi Manusia sangat diagungkan, apalagi jika bicara soal hak asasi wanita. Tapi hal tersebut tidak berlaku kepada para wanita yang hidup di suku pedalaman. Dan konyolnya, fenomena ini bukan hanya ada di jaman kuno saja, di era modern sekarang pun tradisi nyeleneh ini masih ada yang tetap dipelihara.
 
Dengan adat istiadat yang dipegang teguh, ada banyak tradisi kejam terhadap wanita yang tinggal di suku pedalaman di seluruh dunia. Jika kamu penasaran bagaimana kejamnya tradisi aneh tersebut, kamu bisa menyimak ulasannya sebagai berikut. Oh iya sahabat kejadiananeh.com, untuk gambar-gambarnya sengaja tidak saya sertakan karena sangat mengerikan melihatnya. Sebagai gantinya, saya berikan saja gambar yang lebih rendah kalori 🙂
 
10 Tradisi Kejam Terhadap Wanita Suku Pedalaman di Dunia
 
1. Dikubur dalam Pasir Panas
 
Untuk tradisi pertama yang kejam terhadap kaum wanita ada di California bagian selatan, yaitu dilakukan oleh suku pedalaman Luiseno. Dalam adat istiadat suku tersebut, para wanita diharuskan untuk menjalani prosesi menyambut kedewasaan wanita yaitu dikubur hidup-hidup dalam pasir. Hal tersebut wajib dilakukan saat seorang wanita mengalami haid untuk pertama kalinya. 
 
Apabila seorang gadis telah mendapatkan haid, hal ini akan disambut bahagia oleh keluarga dan para tetua suku pun akan mempersiapkan ritual dikubur dalam pasir tersebut. Seperti yang kita tahu bahwa pasir pantai California cukuplah panas sehingga tidak bisa dibayangkan jika seseorang harus dikubur di tengah hari. 
 
Meskipun tersiksa, para wanita suku tersebut harus bangga sebab ia akan menjadi wanita tangguh dan setelah mendapatkan wejangan, si gadis dianggap telah dewasa dan siap untuk menjalani proses pernikahan atau siap dilamar oleh pria menjadi seorang istri.
 
2. Berlari saat Haid
 
Tradisi aneh ini dapat ditemui di suku Navajo khususnya suku Indian Apache yang tinggal di Amerika bagian utara. Di suku pribumi yang satu ini, para wanita yang telah haid harus melakukan sebuah ritual yang sangat melelahkan bahkan terkesan kejam. 
 
Bagi para wanita yang mengalami haid pertama kali, mereka harus berlari dengan menggunakan pakaian tradisional terbuat dari kulit rusa. Sambil memakai baju yang berat, selama 4 hari berturut-turut, wanita tersebut harus berlari ke arah timur dimana matahari terbit.
 
Dan pada malam harinya yaitu hanya di malam pertama setelah wanita tersebut berlari, dia harus duduk dengan posisi selonjor dan harus dilakukan sampai pagi menjelang. Bukan hanya itu saja, esoknya dia diwajibkan untuk membuat kue besar terbuat dari tepung jagung. Kue tersebut dibuat untuk semua anggota suku yang menghadiri acara tradisi tersebut.
 
Tradisi Kejam Terhadap Wanita Suku Pedalaman
 
3. Leher Panjang Simbol Kecantikan Wanita di Myanmar
 
Makin panjang lehernya berarti makin cantik seorang wanita, ya udah pacarin saja jerapah 🙂 Sahabat kejadiananeh.com, bagi suku kayan di pedalaman Myanmar ada persepsi unik yang berlaku sejak jaman nenek moyang mereka bahwa kecantikan seorang perempuan terlihat dari seberapa panjang leher mereka. 
 
Jadi disana ada kebiasaan unik yang sering dilakukan, para kaum wanitanya saling berlomba-lomba untuk memanjangkan leher dengan menggunakan gelang. Biasanya perempuan yang memakai gelang leher ini sudah memulainya ketika usia mereka menginjak 2 hingga 5 tahun. 
 
Proses penambahan gelang leher ini dilakukan secara bertahap dan sangat lambat, namun memiliki efek jangka panjang yang merusak tubuh ideal mereka. Gelang leher ini memang memperpanjang leher penggunanya dalam artian sebenarnya. Tulang selangka pemakainya akan ditekan ke bawah, dan pada waktu bersamaan membengkokkan tulang rusuk mereka. 
 
Jadi bukan leher mereka yang bertambah panjang, melainkan tulang badan yang terdorong ke bawah. Sayangnya, sekali dipakai, mustahil gelang leher ini bisa dicabut. Kalaupun iya, level sakitnya pasti 77 kali lipat lebih pedih ketimbang ditinggal pacar kawin lari hahaha.
 
4. Kaki Lotus di China (Tiongkok Kuno)
 
Di masa abad ke 10 dan 11 di Tiongkok, mengikat kaki atau yang lebih dikenal dengan istilah Kaki Lotus adalah menjadi sebuah tren fashion unik sekaligus mengerikan bagi wanita yang hidup di zaman itu, karena memiliki kaki lotus dianggap melambangkan sifat lembut, sensual dan feminin dari seorang wanita.
 
Tujuan melakukan praktek kaki Lotus adalah untuk membatasi panjang telapak kaki wanita menjadi 3 inci. Bagaimana mungkin caranya? Hal ini hanya dapat dilakukan dengan mematahkan tulang di telapak kaki (meremuk paksa) dan menyusunnya kembali dengan sepatu berukuran pendek. 
 
Sering kali memasukkan paksa kaki yang sudah patah kedalam sepatu dapat menyebabkan infeksi dan gangguan kesehatan seumur hidup, hingga kematian. Dan membutuhkan lebih dari 6 bulan para wanita di jaman itu agar bisa sembuh dan kembali berjalan usai melakukan tradisi unik dan mengerikan tersebut. 
 
 
5. Berendam saat Menstruasi
 
Selain suku Navajo di Amerika Utara, suku Nootka yang ada di Kepulauan Vancouver juga memiliki ritual tak kalah kejam dalam memperlakukan kaum wanita disana. Untuk para wanita yang baru menstruasi atau dalam bahasa mereka disebut dengan menarche, mereka harus menjalani sebuah tradisi yang tidak lazim karena tetua suku akan membawa mereka ke laut lalu meninggalkan mereka sendirian disana.
 
Di laut tersebut, wanita yang sedang haid harus berendam buka-bukaan total selama beberapa hari. Hal ini dilakukan untuk menguji kekuatan wanita tersebut. Mungkin tujuan ritual ini ialah untuk membuat wanita tersebut bisa menahan rasa sakit saat melahirkan nanti. 
 
Akan tetapi, apa pun alasannya, di akhir ritual banyak wanita yang melakukan hal tersebut tidak kuat untuk berdiri karena kelelahan dan saat itulah anggota suku akan bersorak gembira, karena menganggap wanita tersebut telah berhasil melewati ritual kedewasaan.
 
6. Khitan Perempuan
 
Jika khitan banyak dilakukan untuk kamu pria, hal ini akan berbeda di suku Sabiny, Uganda. Dalam suku tersebut, kewajiban untuk khitan justru untuk para wanitanya. Para wanita suku tersebut harus melakukan khitan jika mereka ingin dianggap telah dewasa. 
 
Ritual khitan ini pun cukup sadis sebab bagian klitorisasi wanita akan disayat bahkan dipotong seluruhnya dengan menggunakan silet. Yang paling parah saat menjalankan ritual khitan para wanita tersebut dikhitan tanpa menggunakan obat bius sama sekali. Bisa kamu bayangkan bagaimana rasa sakit yang harus mereka lewati. Ingin mencoba? 
 
Menurut tradisi dalam suku Sabiny, hal ini dilakukan dengan tujuan agar wanita tersebut setia dengan pasangannya kelak karena hasrat hooh hooh si wanita telah berkurang. 
 
Bukan hanya di suku Sabiny saja, ritual khitan perempuan ini pun terjadi di suku Afrika dan Asia lainnya termasuk juga di Indonesia, tapi bedanya di negeri kita sendiri dilakukan oleh Dokter dan sudah menggunakan obat bius beserta obat-obatan sehingga terjamin kesehatannya
 
7. Penyayatan Perut
 
Ada juga ritual kejam lain yang tak kalah sadis dan harus dijalani oleh wanita di etnis Tiv, Nigeria. Para wanita etnis ini yang baru saja mendapatkan haid diwajibkan untuk lakukan sebuah ritual yang menyakitkan. Perut mereka harus disayat sebagai tanda bahwa mereka telah menjadi wanita dewasa. 
 
Penyayatan yang dilakukan pun tidak menggunakan obat bius sehingga para wanita harus menahan rasa sakit yang luar biasa. Sayatan yang dilakukan pun tidak hanya sekali tapi berkali-kali. 
 
Setidaknya, minimal para wanita harus memiliki empat sayatan sehingga dia dinyatakan akan mendapatkan jodoh yang baik. Dan tak kalah anehnya, menurut kepercayaan etnis Tiv, ritual ini bisa membuat kesuburan si wanita akan makin baik jika ia menikah nanti. Apa hubungannya coba, errr..
 
8. Setrika Dada
 
Tradisi sadis terhadap wanita juga terjadi di negara Kamerun. Negara bagian Afrika Barat ini melakukan sebuah tradisi setrika dada untuk para wanita yang sedang alami pubertas. Setrika dada yang dilakukan ini sangatlah menyakitkan karena ibu dari si gadis akan menyetrika dada ayam anak gadisnya sendiri yang rata-rata masih berusia 9 sampai 10 tahun dengan menggunakan kayu, logam, batu atau palu yang telah dipanaskan. 
 
Tanpa didampingi dengan tindakan medis yang memadai, ritual ini tentu saja akan sangat menyakitkan. Banyak para ibu yang hidup di pedalaman Kamerun percaya jika hal ini harus dilakukan agar anak gadis yang sedang pubertas tidak akan mendapatkan pelecehan hooh hooh sebab dada mereka rata dan membuat kaum pria tertarik untuk menggoda mereka. 
 
Menurut data statistik dunia UNFPA, ada 24 persen wanita Kamerun yang mendapatkan perlakuan ini dan tak jarang dari mereka mengalami berbagai masalah kesehatan seperti infeksi, kista, peradangan luka dan masalah penyakit lainnya. Karena berbahaya dan dianggap melanggar hak asasi wanita, banyak pihak yang menginginkan ritual ini dihapus.
 
tradisi wanita paling kejam
 
9. Dibakar dan Digigit Semut Beracun, Suriname
 
Di daerah Suriname khususnya di suku Carib, ada ritual untuk para wanitanya yang sangat menyakitkan. Wanita yang sedang mengalami pubertas harus menjalani ritual yang sangat menyakitkan, bahkan dua ritual sekaligus. Yang pertama mereka harus memegang kapas yang telah dibakar hingga tangan mereka melepuh. 
 
Bukan hanya itu saja, setelah ritual tersebut, para wanita juga harus memakai kain penutup yang dipenuhi dengan semut beracun. Tentu saja, hal tersebut akan sangat menyakitkan. Gak percaya? Coba aja sendiri 🙂
 
10. Diasingkan selama 3 bulan, Suku Ngoni Malawi
 
Di suku pedalaman Ngoni, Malawi, ada sebuah ritual yang harus dilakukan untuk para gadis danterbilang tidak kalah sadis dengan ritual diatas. Dalam ajaran yang diwariskan oleh leluhur suku mereka, wanita yang mengalami pubertas harus melakukan ritual tersebut agar dianggap telah menjadi seorang wanita dewasa. 
 
Pertama, mereka harus diasingkan selama 3 bulan di daerah yang sangat terpencil. Sebelumnya, tubuh dan wajah si gadis akan dipulas dengan tepung putih. Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa gadis itu akan terpisah dari masyarakat suku. Kemudian, mereka juga harus duduk buka-bukaan polos tanpa pakaian sama sekali di sungai dalam waktu yang tidak ditentukan. 
 
Hanya tetua wanita suku tersebut saja yang akan tentukan. Jika si gadis dianggap telah dinyatakan dewasa sepenuhnya oleh tetua wanita suku Ngoni tersebut, maka dia baru boleh keluar dari sungai dan melakukan aktivitas seperti biasa.