Kejadian Aneh Tapi Nyata

Kejadian Aneh Tapi Nyata

Mitos tentang Hujan yang Masih Dipercaya Masyarakat Indonesia

07 Jul 2016

Hujan adalah sebuah anugerah sekaligus rejeki yang diberikan Tuhan kepada seluruh umat manusia yang ada di muka bumi. Tanpa hujan tentunya bisa mengakibatkan adanya kekeringan di berbagai wilayah di dunia dan sudah pasti akan merasakan penderitaan berkepanjangan.

Di Indonesia sendiri hanya memiliki tiga musim yakni musim hujan, kemarau dan musim bokek, tentunya akan sangat berbeda jika hujan tidak kunjung turun. Kehadirannya begitu penting sampai berbagai ritual unik pun banyak dilakukan untuk mendatangkan hujan.

Namun kita tidak membicarakan perihal tersebut, hanya sebatas mitos-mitos yang berkembang tentang hujan yang ceritanya sudah diwariskan turun temurun sejak zaman nenek moyang kita. Lebih jelasnya simak 9 mitos tentang hujan yang masih dipercaya masyarakat Indonesia berikut ini;

Hujan dan singa serta Air Ketuban Genderuwo

Di daerah Banten Jawa Barat, sebagian kecil masyarakatnya mempercayai jika matahari masih bersinar dengan terangnya, dan hujan turun dengan lebat menandakan bahwa singa sedang melahirkan anaknya. Hehehe itu belum seberapa unik dibandingkan dengan mitos aneh yang berlaku bagi orang Jawa, khususnya dalam kepercayaan Jawa Kuno.

Konon katanya, kalau hujan turun deras padahal saat itu matahari sedang panas-panasnya. Itu pertanda sebagai keringat dan air ketuban dari Genderuwo yang sedang melahirkan :)

Hujan di siang hari pertanda orang meninggal

Mitos selanjutnya mengenai hujan yang turun pada saat matahari bersinar terang adalah, ada orang meninggal pada saat tersebut.

Biasanya hujan disertai dengan langit yang mendung, tetapi akan ada keanehan jika pada saat hujan turun matahari masih bersinar dengan sangat terangnya. Sebagian besar masyarakat percaya, jika langit ikut bersedih ketika ada 'tokoh penting' meninggal.

mitos tentang hujan

Hujan dan penampakan bidadari di Ujung Pelangi

Pelangi biasanya akan muncul pada saat hujan sudah selesai turun dan ketika matahari mulai bersinar terang kembali. Biasanya anak-anak akan takjub dengan penampakan pelangi yang ada, karena pelangi sendiri memiliki keragaman warna yang sangat indah.

Lain penilaian anak kecil dengan orang dewasa. Beberapa kalangan masyarakat masih meyakini bahwa ketika pelangi muncul selalu diiringi dengan bidadari yang turun dari langit. Kehadiran pelangi diyakini sebagai jembatan penghubung antara langit dan bumi.

Dan katanya juga, para bidadari cantik ini sedang mandi di ujung pelangi.. Waduhh bisa kena undang-undang pornografi nih hehehe

Anak kecil gak boleh diomelin saat main hujan-hujanan

Konon katanya, kalau adik kita yang masih kecil main hujan-hujanan gak boleh diomeli atau diteriaki. Sebab kalau nanti dilarang agar tidak main hujan-hujanan karena kita takut mereka sakit.

Nanti bisa jadi kenyataan loh, mereka jadi benar-benar sakit, harusnya dibiarkan saja sampai mereka puas bermain. Waduh ini mitos keblinger banget, gak ada hubungannya sama sekali.

Justru air hujan berbahaya untuk kesehatan, terlebih saat gerimis dan hujan pertama turun. Jangankan anak kecil, orang dewasa pun bisa menjadi sakit. Dan jika ada orang yang hujan-hujanan tanpa merasakan sakit, itu kebetulan saja karena daya tahan tubuhnya sedang optimal.

Teru-teru bozu

Mitos konyol tentang hujan selanjutnya yang masih dipercaya hingga kini adalah dengan menggantung boneka yang terbuat dari kain atau kertas yang didalamnya diisi dengan kapas.

Boneka ini digantung pada jendela kamar, hal ini merupakan budaya orang Jepang yang diadopsi oleh beberapa kalangan masyarakat Indonesia. Dengan menggantung boneka tersebut diyakini keesokan harinya akan cerah. Waah ajaib :)

Melempar celana dalam ke atas genteng rumah

Menurut beberapa kepercayaan orang Indonesia, jika menginginkan hujan cepat berhenti maka kamu cukup melempar kolor alias celana dalam ke genteng rumah sendiri.

Tetapi ada syaratnya yaitu celana dalam yang dilempar, harus celana dalam yang sedang kamu pakai dan bukan yang diambil dari lemari, apalagi kolor babeh kamu hahaha.

Hubungan Imlek dengan Hujan

Hayoo kenapa setiap perayaan Imlek pasti selalu hujan? Dan katanya semakin lebat hujannya semakin bertambah berkahnya.

Fakta tentang hari Imlek yang mungkin belum kamu ketahui. Bahwa di Indonesia sendiri, setiap hari raya Imlek dilaksanakan, selalu bertepatan dengan musim hujan. Jadi tidak mengherankan jika perayaan Imlek selalu diwarnai dengan munculnya angin serta hujan besar-besaran.

Sedangkan hubungan hujan dengan keberkahan ini hanya sebatas kepercayaan 'kecil' saja. Menurut ahli Feng Shui bernama Xiang Yi, nasib dan peruntungan seseorang tidak bisa diukur dari seberapa besar hujan yang turun di hari Imlek.

Karena setiap orang sudah memiliki garis peruntungan masing-masing berdasarkan tanggal lahirnya yang akan menentukan nasib, masa depan serta kehidupannya nanti.

Jangkrik dan hujan

Jangkrik adalah salah satu serangga yang dipercaya oleh masyarakat dapat memprediksikan cuaca. Pada beberapa daerah di Indonesia jangkrik masih dijadikan sebagai indikator cuaca.

Biasanya kalau jangkrik bersuara nyaring maka cuacanya akan cerah dan juga sebaliknya jika jangkrik tidak bersuara maka akan turun hujan lebat.

mitos hujan yang masih dipercaya

Hujan dan pengantin

Sebagian masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Karawang Bekasi masih mempercayai kalau calon pengantin tidak boleh mandi pada saat hendak didandani, karena jika mereka mandi akan turun hujan. Dan hujan ini tentunya akan menghambat acara pernikahan yang akan berlangsung pada hari itu.


Beberapa mitos tentang hujan diatas sampai kini masih banyak yang tetap percaya dan melakukan ritualnya di beberapa kalangan masyarakat Indonesia, kebiasaan ini sudah dilakukan secara turun menurun dan agak sulit menghilangkan fenomena unik tersebut di masyarakat, meskipun keadaan zaman sekarang sudah canggih.

Namun ada satu mitos yang dirasa cukup benar dan dapat teruji secara ilmiah, misalnya seperti hubungan hujan dengan jangkrik dan sahabat baiknya si Kodok, memang sudah ada penelitian mengenai hal tersebut.

Bila pada jangkrik, perubahan kelembaban suhu udara bisa mempengaruhi kecepatan sayap jangkrik, sedangkan pada kodok kandungan air di udara menjadi lebih banyak dan itu memudahkan mereka bernapas melalui kulit. Sehingga sangat wajar kalau mereka bersuara nyaring untuk merayakan kebahagiaan mereka :D

Related Article