Fakta Kesaktian Panglima Burung, Suku Dayak Kalimantan

Salah satu suku di Indonesia yang disegani dengan ilmu kesaktiannya adalah Suku Dayak yang berasal dari Kalimantan. Kita tidak perlu mempertanyakan kehebatannya karena mereka memang sangat hebat dalam berperang sejak jaman nenek moyang. Di Kalimantan sendiri, para tokoh pedalaman asli ini menjadi orang-orang yang paling dihormati dan disegani. Salah satu suku tertua di Indonesia ini begitu ditakuti masyarakat karena mereka sakti, karismatik, jumawa, dan mereka mempunyai kesan mistik yang masih kuat sampai sekarang.

Suku Dayak semakin disegani karena terdapat eksistensi sosok “Panglima Burung” yang sangat penting bagi mereka. Dia adalah seorang pahlawan yang akan bersedia membantu rakyat Dayak yang mempunyai masalah yang sulit. Panglima Burung merupakan sosok yang begitu dihormati dan dipuja oleh orang Dayak. Konon katanya, masalah sebesar dan serumit apapun dapat segera diselesaikan saat Panglima Burung muncul. Berikut informasi selengkapnya tentang Kesaktian Panglima Burung.

Tari Mandau, Kesenian Traditional Suku Dayak Kalimantan (image by blog.vokamo.com)

fakta panglima burung

Siapakah sosok Panglima Burung yang sebenarnya?

Ini adalah pertanyaan yang paling besar untuk orang luar Dayak. Seperti apakah wujud dari Panglima Burung yang sebenarnya? Orang tua atau leluhur dari Suku Dayak mengatakan bahwa sosok yang satu ini berwujud manusia namun dengan fisik yang sangat kuat dan beliau sudah berusia sangat tua. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Panglima Burung adalah sosok gaib yang bisa dipanggil melalui suatu ritual khusus.

Foto Leluhur Suku Dayak Kuno (image by Facebook Michael Palmieri-Photography)

panglima burung

Panglima Burung tinggal di pedalaman hutan Kalimantan selama ratusan tahun lamanya. Beliau ber tapa semedi disana dan akan pergi hanya ketika dipanggil oleh anak cucunya yang membutuhkan bantuan. Ada juga yang mengatakan bahwa Panglima Burung adalah jelmaan burung Enggang yang merupakan makhluk suci yang dikeramatkan oleh orang Dayak.

Panglima Burung adalah representasi orang Dayak

Panglima Burung merepresentasikan orang Dayak sebab dia sangat baik hati namun bisa berubah menjadi kejam jika marah. Sama seperti orang Dayak pedalaman pada umumnya. Panglima Burung baik, sabar, sopan, ramah, dan sangat menghargai alam begitupun dengan suku-suku di luar Kalimantan. Karena fakta sesungguhnya rata-rata masyarakat Dayak dikenal sangat kalem, ramah, tidak suka dengan kekerasan namun dapat berubah total 180 derajat jika mereka mengamuk, terutama jika menyangkut harga diri keluarganya.

Jika Panglima Burung dipanggil oleh anak cucunya karena ada bahaya atau ada ancaman yang menyerang orang Dayak, maka dia akan berubah menjadi sangat kejam. Tanpa rasa tega ia akan menghabisi orang-orang yang menyakiti anak-anak keturunannya. Bahkan Panglima Burung dari Suku Dayak Kalimantan ini tidak akan mau kembali ke tempat tinggalnya jika belum memenggal kepala para musuhnya.

Memanggil Panglima Burung melalui Ritual Mangkok Merah (gambar ilustrasi by kaskus.co.id)

Panglima Burung hanya akan muncul jika ada hal penting yang terjadi atau situasi darurat. Untuk membuat dia datang dan menolong rakyatnya, harus diadakan sebuah ritual khusus berupa upacara pemanggilan bernama Mangkok Merah. Dalam ritual ghaib ini harus mengumpulkan benda-benda khusus yang memiliki filosofi tinggi bagi Suku Dayak seperti daun rumnia, tali simpul, bulu ayam, dan masih ada lagi benda lainnya yang dirahasiakan.

Saat semua benda terkumpul maka akan ditempatkan di sebuah wadah mangkok berwarna merah. Ritual ini adalah ritual sakral yang harus dibicarakan dengan para tetua-tetua suku dayak terlebih dahulu. Ritual Mangkok Merah tidak bisa dibatalkan dan akan membawa banyak jatuhnya korban setelah mengundang kehadiran Panglima Burung.

Peristiwa Sampit

Perang suku antara orang Dayak dan orang Madura pada tahun 2001 ini memakan banyak korban. Sebagian besar korban yang meninggal adalah dari pihak Madura. Konon katanya Panglima Burung turut hadir dalam Peristiwa berdarah Sampit. Jadi ada dugaan bahwa orang Madura yang meninggal tersebut adalah hasil perbuatan beliau atau kemungkinan lain, kesaktian beliau diturunkan pada orang-orang dayak yang merupakan anak-anak keturunannya.

Aneh dan tak masuk akal bagi kita mendengarnya tapi faktanya ini memang benar-benar pernah terjadi. Menurut kesaksian banyak orang, pada peristiwa tragis tersebut, orang-orang pedalaman suku dayak dapat mengenali suku madura hanya dengan mencium baunya dari kejauhan saja. Hebatnya lagi mereka tidak mempan meski dibacok dengan senjata tajam ataupun ditembak dengan senjata api saat para petugas Kepolisian beserta TNI berusaha melerai pertikaian berdarah antar suku ini.

Fenomena Mistis Mandau Terbang (image by fotografindo.com)

Fakta Kesaktian Panglima Burung Suku Dayak Kalimantan

Bahkan dimasa itu ada istilah mandau terbang, dimana senjata khas suku Dayak Kalimantan tersebut dapat terbang dengan sendirinya menewaskan para musuh-musuhnya. Ya peristiwa sampit ini memang sebuah tragedi besar bagi Indonesia, semoga tidak ada lagi konflik antar suku, ras ataupun agama yang dapat memecah belah keharmonisan negeri tercinta kita ini 😀