6 Ilmuwan Besar yang Dibunuh Inkuisisi Gereja Karna Membuktikan Kebenaran Sains

Mereka dibunuh karena benar! Bukan karena dosa dari perbuatan kedua tangannya, tapi karena pemikiran mereka yang dianggap berbeda dan bertentangan dengan ajaran agama. Alih-alih membela nama Tuhan, para inkuisisi gereja katolik Roma di abad pertengahan ini justru menjadi pecundang akibat kebodohan mereka sendiri. Tanpa menguji lagi ‘kebenaran’ mereka mempermalukan, memenjarakan hingga menghukum mati 6 ilmuwan besar paling berpengaruh dalam dunia sains ini.

1. Galileo Galilei, Dihukum Seumur Hidup Sampai Meninggal Dunia

Pada dasarnya Gereja Katolik Roma di masa itu tidak pernah menentang kemajuan sains, justru mendukung perkembangan sains. Namun karena standar pembuktian sains dianggap mengancam kebenaran kitab suci dari beberapa ayat yang bertentangan, padahal Galileo Galilei sendiri berkata bahwa Alkitab bukanlah panduan ilmu pengetahuan dunia melainkan pedoman hidup manusia untuk mencapai jalan ke surga.

Galileo Galilei yang dikenal sebagai bapak sains modern adalah salah satu ilmuwan yang membuktikan kalau teori Copernicus tentang Bumi adalah Bulat dan planet-planet lain mengelilingi Matahari adalah benar yang menyimpulkan bahwa Matahari sebagai pusat sistem tata surya.

ilmuwan yang dihukum gereja

Bahkan untuk menguji keakuratannya, Galileo sampai membuat sebuah teleskop untuk observasi tata surya, dan mendapatkan penemuan baru bahwa ia bisa menghitung kecepatan rotasi matahari hanya dengan melihat pergerakan titik hitam di matahari saja. Begitupun dengan besaran massa Planet Jupiter, peredaran Planet Venus dan penemuan Cincin Saturnus.

Kemudian di tahun 1616, lagi-lagi Galileo memberikan bukti tentang teori heliosentris tentang pasang air laut kepada Kardinal Orsini. Bahwa terjadinya pasang air laut disebabkan karna perputaran bumi terhadap porosnya serta perputaran bumi terhadap Matahari. Begitu mengagumkannya teori dari Galileo ini sampai-sampai Albert Einstein pun salut dan mengatakan, teori tentang pergerakan bumi dari Galileo ini tidak bisa dibantahkan oleh siapapun termasuk kaum elit agamawan, dia benar-benar luar biasa ungkap Albert Einstein.

Namun sayangnya teori ini dianggap menyesatkan iman serta menistakan ajaran agama oleh Kardinal Robertus Bellarminus. Sejak itu banyak pihak Gereja Katolik, Gereja Protestan termasuk Martin Luther yang menentang keras teori heliosentris ini. Mereka tetap keukeuh bahwa bumi adalah datar dan sebagai pusat alam semesta. Lagi kata Martin Luther, ‘Si dungu itu akan mengacaukan seluruh ilmu astronomi’.

Endingnya tim investigasi Gereja melalui komite Inkuisisinya menggugat Galileo yang saat itu sudah berumur 70 tahun. Keputusan pengadilan membuat Galileo menjadi tahanan rumah seumur hidup sampai ia meninggal dunia.

ilmuwan yang dibunuh gereja

Sahabat kejadiananeh.com, kisah kehidupan Galileo tak secemerlang karyanya untuk dunia. Ia manusia yang kurang beruntung baik semasih hidup maupun sesudah meninggal dunia di tahun 1642 saat ia sudah berumur 77 tahun. Selepas ia meninggal, jasadnya seakan menjadi mayat hidup, hanya disimpan tanpa dikubur hingga tahun 1737 hampir seabad sebelum resmi dikubur di Gereja Santa Croce, Florence di Italia.

Itupun kondisi mayat Galileo sudah tidak utuh lagi, karena ada seorang bangsawan yang tega memotong tiba buah jari Galileo untuk dijadikan kenang-kenangan. Sampai sekarang potongan jari tengah Galileo masih bisa kita temukan di Museum Sejarah Ilmu Pengetahuan di Kota Florence, Italia. Dan 2 jari sisanya disimpan oleh seorang Dokter Italia yang tidak diketahui lagi keberadaannya.

Di tahun 1992, keputusan penghukuman kepada Galileo Galilei dianggap sebagai kesalahan besar Gereja oleh Paus Yohanes Paulus II, kemudian rehabilitasi nama baik Galileo ini dipertegas lagi pada tanggal 21 Desember 2008 melalui pidato Paus Benediktus XVI, bahwa Gereja Katolik Roma mengakui kekhilafannya dan merehabilitasi nama Galileo sebagai ilmuwan penyumbang terbesar bagi dunia sains modern.

2. Nicolaus Copernicus

‘Banyak  ‘pembual besar’ yang berusaha mengkritik keras karya penemuan saya, padahal mereka sama sekali tidak tahu tentang ilmu matematika, dan dengan tanpa malu mereka nekat menyimpangkan makna beberapa ayat-ayat kudus dalam Al Kitab agar cocok dengan tujuan mereka, mereka juga berani mengecam dan menyerang karya saya, saya tidak khawatir sedikit pun terhadap mereka, bahkan saya akan mencemooh kecaman mereka sebagai tindakan yang gegabah dan paling bodoh’.

Tulisan diatas adalah penggalan kalimat Nicolaus Copernicus saat mengirimkan surat kepada Paus Paulus III. Nicolaus Copernicus adalah seorang astronom, matematikawan dan ilmuwan sains yang pertama kali menciptakan landasan teori tentang heliosentrisme dimana Matahari menjadi pusat tata surya dan dikemudian hari teori ini semakin disempurnakan oleh Galileo.

Baca juga  Foto Hoax Tolak Berhubungan Cinta 19 Perempuan Dieksekusi ISIS

Dalam buku De revolutionibus orbium coelestium (revolusi falak) tentang teori heliosentrisme yang ia rahasiakan selama 30 tahun, karena begitu takutnya ia akan Pihak Gereja yang nanti murka tentang teorinya. Jelas-jelas teori revolusioner ini akan memancing kemarahan massal umat, bukan hanya bertentangan dengan ajaran agama tapi juga teori ini bertentangan dengan ajaran filsuf yang terpandang Aristoteles, dan tidak sejalan dengan kesimpulan matematikawan Yunani, Ptolemeus.

Selain itu, teori Copernicus menyangkal apa yang dianggap sebagai ‘fakta’ sains di masa itu bahwa Matahari terbit di timur dan bergerak melintasi angkasa untuk terbenam di barat, sedangkan bumi tetap tidak bergerak. Ia terus melanjutkan penelitiannya tentang bintang dan planet, mengumpulkan bukti untuk mendukung suatu teori yang revolusioner bahwa bumi bukan pusat yang tidak bergerak dari alam semesta tetapi, sebenarnya-benarnya bergerak mengitari matahari sebagai pusatnya.

Ilmuwan Besar yang Dibunuh Inkuisisi Gereja

Sampai akhirnya Copernicus dianggap sebagai ilmuwan sesat oleh Gereja karena teorinya telah mempengaruhi para ilmuwan lain. Ia meninggal di umur 70 tahun sebagai pesakitan karna dikucilkan sepanjang hidupnya. Sampai kuburannya pun ditandai dengan kalimat ungkapan ‘si pecundang yang meminta ampun kepada Tuhan bagai seorang pencuri yang mati di kayu salib.

3. René Descartes

René Descartes yang dikenal juga dengan nama Renatus Cartesius adalah bapak filsafat modern serta matematikawan Perancis. Ia juga menjadi salah satu ilmuwan pencetus aliaran rasionalisme, menentang tirani gereja serta membantah otoritas ilmuwan Yunani yang selalu menjadi tolak ukur kepastian dalam ilmu sains.

Rene Descartes pernah menggagas filosifi Cogito Ergo Sum yaitu aku berpikir maka aku ada. Berawal dari gagasan ini kemudian teori filsafatnya mengungkapkan bahwa Tuhan itu ada dan benda-benda material itu juga ada, benda material terbatas contohnya meja, kursi, rumah, tubuh manusia dsb. Benda mental nonmaterial adalah pikiran dan jiwa manusia. Sedangkan Tuhan sendiri menurut Descartes adalah benda mental yang tak terbatas.

ilmuwan sains dihukum mati

Bagi Descartes, prinsip dasar akan adanya Tuhan harus mutlak lebih besar, lebih sempurna baik dari proses maupun akibat. Tuhan bagi pandangannya adalah suatu makhluk sempurna yang tak terhingga. Gagasan tersebut tidak mungkin muncul/disebabkan oleh pengalaman dan pikiran diri sendiri, karena kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak sempurna dan dapat diragukan sehingga tidak memenuhi prinsip sebab lebih sempurna dari akibat. Gagasan tentang Tuhan yang ada dalam kepala (sebagai akibat) hanya bisa disebabkan oleh sebuah makhluk sempurna yang menaruhnya dalam pikiran saya, yakni Tuhan.

Setelah membuktikan adanya eksistensi Tuhan, Descrates juga membuktikan bahwa benda material itu eksis. Ia menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan ketidakmampuan untuk membuktikan bahwa benda material itu sejatinya tidak ada. Bahkan Tuhan menciptakan manusia untuk memiliki kecenderungan pemahaman bahwa benda material itu eksis.

Apabila pemahaman benda material eksis hanya merupakan sebuah matriks kompleks yang menipu pikiran manusia, itu berarti Tuhan adalah penipu, dan bagi Descrates, penipu ialah ketidaksempurnaan. Padahal Tuhan ialah makhluk yang sempurna, oleh karena itu Tuhan tidak mungkin menipu, sehingga benda material itu pastilah ada.

Namun pada akhirnya yang menjerumuskan hidup Descrates adalah saat ia mendukung teori Galileo yang berjudul ‘The World’. Semenjak itu sang filsuf seakan sudah memancing permusuhan besar dengan Gereja, dan puncak ketegangannya saat ia menerbitkan buku tentang Meditations on First Philosophy bahwa suatu kebenaran tidak bisa hanya disampaikan oleh ucapan lisan saja atau berdasarkan warisan cerita orang-orang yang dianggap suci, karena kebenaran hanya bisa ditemukan melalui penyelidikan ilmiah serta penelitian sains agar terbukti akurat tanpa kebohongan yang diagung-agungkan.

Baca juga  9 Bagian Tubuh Nabi Muhammad yang Masih Tersisa dan Tersimpan Utuh, Teruji Keasliannya?

Setelah itu kehidupan Descrates menjadi berubah 180 derajat, ia hidup sengsara sepanjang hidupnya, mendapatkan kritikan keras dari pihak gereja, negarawan serta masyarakat biasa karena sudah dianggap menistakan agama. Setiap hari dicemooh, diolok-olok dan dikucilkan, sampai banyak orang yang menginginkan ia agar segera dihukum mati. Lama-lama René Descartes mati suntuk dan pensiun dari dunia pada 11 februari 1650 tepat diusianya yang ke 53 tahun.

4. Giordano Bruno, Martir untuk Ilmu Pengetahuan

Kematian paling tragis dari para ilmuwan besar justru dialami oleh Giordano Bruno, seorang filsuf, matematikawan, ahli kosmologi sekaligus pendeta asal Italia. Ia adalah seorang Ilmuwan yang mati martir, dibunuh karena benar untuk ilmu pengetahuan.

Sama seperti Galileo Galilei, Girodano Bruno juga mendukung teori Copernicus dan sempat menelurkan karyanya yang menjadi kontroversial yakni bintang hanyalah matahari yang dikelilingi oleh exoplanet. Gara-gara teorinya ini membuat Bruno langsung dicap bidaah, sesat dan menista kesucian agama. Hingga akhirnya Girodano Bruno dijebloskan ke dalam penjara dan diancam hukuman mati.

Pada masa itu memang Inkuisisi Roma, sistem pengadilan yang dikembangkan oleh Tahta Suci Gereja Katolik Roma pada pertengahan kedua abad ke-16 sedang  memburu penganut ajaran sesat, termasuk para tokoh ilmuwan, serta cendekiawan.

Sebenarnya nasib Girodano Bruno bisa lolos selamat dari hukuman mati, kalau saja ia mau mengubah pandangannya. Namun saat di pengadilan agama dengan tegas Girodano Bruno tak mau mengubah prinsip pendiriannya demi memperjuangkan kebenaran ilmu pengetahuan. Hingga membuat Inkuisisi Gereja murka dan mengeksekusi mati Girodano Bruno.

Inkuisisi Gereja

Ia dibakar hidup-hidup di Campi de Fiori, alun-alun utama kota Roma di hadapan jutaan rakyat. Begitu menyedihkan akhir kehidupan pejuang ilmu pengetahuan ini, dipermalukan dan diperlakukan bagai seekor binatang tanpa rasa belas kasihan sedikitpun.

5. Kemajuan Sains dalam Pengaturan Kelahiran (kontrasepsi KB)

Gereja Katolik sangat melarang keras praktek kontrasepsi buatan sejak abad-abad awal Kekristenan, karna dipandang berlawanan dengan keteraturan hakiki manusia. Mirisnya kaum Manichean yang mempraktekkan kontrasepsi KB ini pada masyarakat mereka, turut menjadi tumbal besar-besaran karena kaum mereka dianggap bid’ah dan bertentangan dengan ajaran gereja di masa itu. Sampai akhirnya jatuh korban lebih dari ratusan kaum Manichean yang ditangkap, dipenjarakan sampai dijatuhi hukuman mati oleh Inkuisisi gereja katolik roma.

6. Charles Darwin

Dari sekian daftar Ilmuwan Besar yang Dibunuh, dikucilkan sampai dihukum mati oleh inkuisisi Gereja karena membuktikan kebenaran sains, sepertinya nasib Charles Darwin paling beruntung dibandingkan mereka. Padahal seperti yang kita tahu bapak pencipta teori evolusi ini menentang konsep manusia pertama adam dan hawa dalam ajaran agama Abrahamik yakni Yahudi, Kristen dan Islam.

Galileo Galilei dihukum mati

Charles Darwin sebenarnya sempat merahasiakan teori kontroversial itu selama hampir 20 tahun. Namun pada akhirnya ia berani mengungkapkan setelah ada ilmuwan lain seperti  Jean Baptiste de Lamarck yang juga memiliki pemikiran sama. Endingnya buku teori evolusi  Darwin resmi launching pada tahun 1859 yang berjudul The Origin of Species, membahas evolusi manusia beserta hewan yang katanya sama-sama berasal dari satu nenek moyang.

Konsep pemikiran ini tentu saja membuat pihak Gereja beserta seluruh kaum agamawan lain murka besar terhadap Darwin. Kritik-kritik tajam pun dilayangkan sampai menganggap Darwin manusia sesat. Untungnya zaman di era Charles Darwin tidaklah se barbar abad pertengahan, banyak komunitas pecinta sains yang membela dirinya.

Ilmuwan Besar yang Dibunuh Inkuisisi Gereja Karna Membuktikan Kebenaran Sains

Bahkan buku teori evolusi Darwin laris manis penjualannya dan masyarakat modern juga mendukung teori evolusi manusia Darwin sebagai fakta yang masuk akal logika, tidak seperti ajaran agama yang terlalu banyak cerita dongeng, takhayul,  ancaman neraka bagi para pendosa dan imajinasi tingkat tinggi tanpa pernah ada pembuktian akurat menurut mereka.