Misteri Cacing Kapal Pemakan Gas (Kuphus Polythalamia)

Misteri cacing kapal pemakan gas hidrogen sulfida (Kuphus polythalamia, Shipworm raksasa) terjawab sudah. Selama lebih dari 200 tahun para ilmuwan masih terus mencari keberadaannya. Tak satupun dari mereka yang berhasil menemukan cacing kapal dalam keadaan hidup-hidup di habitatnya.

Hingga pada tahun 2016 kemarin, Daniel Distel, Ph.D seorang peneliti dari Universitas Northeastern sudah pernah melakukan riset ilmiah ke Mindanao, Filipina. Berbekal rekaman video Youtube, Daniel sempat menanyakan fenomena aneh tentang cacing kapal Kuphus polythalamia kepada ilmuwan lokal setempat.

Gambar Cacing Kapal Kuphus Polythalamia (image by Marvin Altamia)

cacing kapal pemakan gas

Kemudian Daniel mendapatkan petunjuk tentang lokasi cacing aneh yang bisa tumbuh hingga 1,5 meter itu dan akhirnya ia berhasil menemukan cacing kapal masih utuh dalam keadaan hidup di sebuah pedalaman Mindanao, Maluku Besar, pulau terbesar kedua di Filipina.

Daniel dan timnya berhasil mendapatkan 5 sampel makhluk aneh tersebut, tubuhnya sudah tertutup cangkang kalsium karbonat dengan panjang 1 sampai 1,5 meter. Mereka kemudian mengupas tabung berkapur, dan ternyata bagian lunak yang menyerupai jaringan lunak didalam kulit kapur itu adalah cacing aneh Kuphus polythalamia.

Kuphus polythalamia dijuluki juga sebagai Shipworm raksasa karena tubuhnya yang bisa mencapai 1,5 Meter

Kuphus polythalamia

Banyak fakta mengejutkan yang didapatkan Daniel Distel setelah ia dan timnya melakukan serangkaian penelitian di laboratorium. Bahwa cacing kapal yang selama ini diduga masih spesies keluarga cacing oleh para ilmuwan lain ternyata salah, karna cacing kapal penghisap gas itu masuk dalam golongan hewan lunak seperti kerang.

Tubuhnya bisa terus tumbuh menjadi cacing raksasa, bahkan melebihi ular kobra. Ia bisa memanjang hingga lebih dari 1,5 meter. Cacing kapal yang memiliki nama ilmiah Kuphus Polythalamia atau dikenal juga dengan nama shipworm raksasa itu bisa dikatakan sebagai remis terpanjang di dunia, super jumbo sekali.

Baca juga  Aneh! Ikan Tuna Masih Tetap Hidup Meski Dibelah Dua

Dan perbedaan mencolok dengan cacing kapal lainnya terlihat jelas dalam pola makan. Jika cacing kapal biasa memakan kayu, cacing aneh ini justru memakan gas. Dan ia bisa menyembunyikan tubuhnya, terbungkus rapat-rapat di dalam selang tabung gas. Kemudian ukuran mulut dan saluran pencernaan pada cacing kapal misterius ini juga sangat kecil, nyaris tidak kelihatan. Hal ini sebagai bukti bahwa mulutnya jarang bahkan tidak pernah sama sekali digunakan untuk mengkonsumsi makanan.

cacing kapal

Tapi anehnya pada bagian insang justru sangat besar, dan ketika kami meneliti insang cacing itu. Kami menemukan banyak sekali bakteri pemakan gas Hidrogen Suldifa yang tumbuh subur pada seluruh bagian insangnya.

Dengan temuan bakteri pemakan hidrogen sulfida itu membuktikan bahwa telah terjalin hubungan simbiosis saling menguntungkan satu sama lain. Bakteri bisa memiliki tempat hidup dan Polythalamia alias cacing kapal mendapatkan nutrisi. Jadi ketika bakteri mengubah hidrogen sulfida menjadi sulfat, bentuk senyawanya akan dimanfaatkan oleh cacing Polythalamia sebagai sumber energi, ungkap Daniel Distel.

Dirinya juga menambahkan bahwa ini adalah salah satu bentuk evolusi konvergen, yakni sebuah evolusi pada spesies hewan berbeda dan prosesnya berlangsung secara mandiri. Antara satu spesies dengan lainnya saling menyesuaikan diri pada habitat tertentu.

Video Aneh Kuphus Polythalamia

Memang unik dan menakjubkan, kemampuan kerja sama yang baik antara bakteri bernama 2141T menjadi kunci bagi cacing polythalamia dapat bertahan hidup dan terus tumbuh menjadi cacing raksasa. Bayangkan saja, cacing kapal Kuphus Polythalamia ini tak perlu repot-repot mencari mangsa, karena dia cukup berenang saja sudah bisa mendapatkan nutrisi penting untuk metabolisme tubuhnya, benar-benar makhluk aneh bin ajaib.