Induk Paus Pembunuh Bawa Mayat Anaknya Berenang selama Seminggu, Sedih Bener Dah!

Sedih dan menyayat hati! Hewan pun punya perasaan yang sama seperti manusia saat mereka kehilangan anak-anak yang mereka cintai. Hal itu juga yang dirasakan seekor Induk paus pembunuh (Orcinus orca) yang tak rela dengan kematian anaknya. Selama lebih dari seminggu induk paus membawa mayat anaknya berenang di luasnya Lautan Pasifik.

Adalah Tahlequah nama induk paus tersebut yang juga dikenal sebagai J35, diketahui ia melahirkan anaknya pada hari selasa kemarin. Namun sang bayi tercinta hanya mampu bertahan hidup selama setengah jam saja. Remuk hati ibu paus itu dan tidak bisa menerima kenyataan hidup. Ia menolak untuk melepaskan bangkai anaknya. Ia masih terus mendorong tubuh mati itu dengan kepalanya agar si anak tetap berada di permukaan air.

Induk Paus Orca Berduka, Mayat Bayinya Dibawa Berenang Berhari-hari

Seakan mengerti betapa hancurnya perasaan induk paus tersebut, kawanan Paus Orca lainnya tetap berada di dekat Tahlequah dan terus mengawalnya selama perjalanan seminggu dari Pulau San Juan di Laut Salish, lepas pantai British Columbia hingga Negara Bagian Washington.

Ini menjadi pemandangan unik sekaligus memilukan hati. Rasanya tidak bisa dipercaya, induk paus itu masih terus membawa bayinya dengan kepalanya, mendorongnya untuk tidak tenggelam dan tetap di permukaan air. Begitu juga dengan seluruh keluarganya yang tetap berada di sisinya.

Sirip punggungnya melengkung sempurna, pundak putihnya cemerlang dengan goresan paling samar… Lengkungannya berkilauan di bawah sinar matahari saat ia menyelam. Itu adalah pemandangan paling indah di dunia kalau Anda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, imbuh Taylor Shedd dari Soundwatch yang memantau kawanan paus tersebut.

Induknya kurang gizi menjadi penyebab kematian bayi paus pembunuh Tahlequah

Apa penyebab kematian anak paus pembunuh Tahlequah itu? Sebelumnya ini adalah bayi paus orca pertama yang berhasil lahir dari Southern Residents Killer Whales dalam tiga tahun terakhir. Menurut keterangan para peneliti, bahwa ikan paus orca terancam punah disebabkan habitat mereka dicemari limbah rumah tangga, pabrik, polusi air, suara kapal laut serta penurunan populasi salmon Chinook.

Baca juga  Anjing Terkaya di Indonesia, Ulang Tahun Dirayakan di Kapal Pesiar Mewah

Berbeda dari paus orca yang lain, kelompok Paus Orca yang berasal dari Southern Residents Killer Whales secara eksklusif hanya makan ikan berlemak yang populasinya menurun drastis karena penangkapan berlebih dan berubahnya habitat. Sebab itulah kekurangan gizi menjadi penyumbang terbesar tingkat kegagalan kehamilan pada orca betina. Sehingga ketika bayi orca lahir ia tidak sempurna pertumbuhannya dan daya tahan tubuhnya.

Dilaporkan dalam studi Universitas Washington bahwa terdapat kegagalan sebanyak dua pertiga dari total kehamilan orca antara 2007 dan 2014. Dan yang lebih menyedihkan saat ini jumlah mereka sangat-sangat sedikit mendekati kepunahan. Hanya ada 75 paus pembunuh yang tersisa di tiga kawanan, dan menjadi tingkat terendah dalam tiga dekada yang tadinya jumlah mereka ada 98 ekor pada tahun 1995.

Pemandangan Menyayat Hati Induk Paus Pembunuh Orca Bawa Mayat Anaknya Berenang Berhari-hari

Induk Paus Pembunuh Bawa Mayat Anaknya Berenang

10 Pengorbanan Induk Hewan yang Menakjubkan

Brad Hanson, ahli biologi margasatwa dari Pusat Sains Perikanan Barat Laut di Seattle mengatakan, ‘Rata-rata kami selalu berharap ada beberapa bayi orca lahir setiap tahun. Tapi faktanya sangat pahit, bahwa kami belum pernah melihat adanya kelahiran dalam beberapa tahun terakhir dan kemudian mengalami kegagalan reproduksi adalah bukti adanya masalah berat terkait kemampuan reproduksi.

Pernah terjadi lonjakan jumlah bayi paus pembunuh dalam waktu singkat pada Desember 2014, seiring dengan adanya pasokan salmon yang melimpah. Pada saat itu, sekitar 11 bayi orca lahir, tapi setengahnya kini sudah mati. Sangat disayangkan, kalau begini terus lama-lama keberadaan mereka bisa punah dan anak cucu kita hanya bisa melihat mereka dalam buku sejarah saja imbuh Brad Hanson sambil malu-malu unch.