Pengurus Masjid Jangan Bermental Pengemis dan Kikir, Berpikir Ala Orang Kaya Dong!

Taruh tong besar di tengah jalan, ujung2nya minta uang ke pengguna jalan untuk pembangunan Masjid. Sebenarnya hal ini sah-sah saja kok, namanya juga minta sumbangan, boleh ngasih boleh juga enggak,pokoknya bebas. Yang gak boleh itu kalau mintanya memaksa, apalagi akal-akalan!

Jika seandainya kita nanti punya kesempatan menjabat sebagai takmir alias pengurus Masjid, diharapkan memiliki ide yang kreatif, jangan pernah bermental pengemis dan kikir. Mengutip dari detik.com, Begini blak-blakan bapak Takmir Masjid Jogokariyan yang bisa dijadikan inspirasi.

Orang yang dipilih sebagai ketua dan bendahara masjid itu sebaiknya yang suka berpikir ala orang kaya dan suka memberi. Sebab dengan begitu, menurut Ketua Dewan Syuro Takmir Majid Jogokariyan M Jazir ASP, pikirannya adalah bagaimana agar dana yang terkumpul dari infaq/sodaqoh bisa segera disalurkan untuk segala kebaikan.

Sebab masjid tidak akan maju bila para pengurus, terlebih ketua dan bendaharanya, berpikir ala orang miskin. Mereka maunya menyimpan uang (infaq) saja tanpa sudi untuk segera membelanjakannya demi melayani jamaah.
Beberapa hari lalu dia mendapat penghargaan sebagai salah satu Tokoh Perubahan 2019 dari Republika.

Foto M Jazir ASP Ketua Takmir Majid Jogokariyan

pengurus masjid jangan bermental pengemis dan kikir

Sebagai takmir masjid dia dinilai menjalankan manajemen pengelolaan masjid secara kreatif dan inovatif. Ketika di masjid-masjid lain para pengurus lebih suka mematikan lampu dan mengunci pintu masjid setiap kali usai waktu salat, Jazir justru sebaliknya. “Kecenderungan selama ini banyak orang dipilih menjadi pengurus masjid itu yang kikir-kikir, imbuh Jazir.

Mantan dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII Yogyakarta itu menunjukkan bahwa tagihan listrik yang membengkak diimbangi dengan pemasukan infaq dan sodaqoh dari para jamaah yang salat. Tak cuma itu, Jazir juga pernah mencanangkan “Gerakan Mensalatkan Orang Hidup” agar warga bisa salat dan mau berjemaah ke masjid.

Baca juga  Ikan Tuna Termahal di Dunia Laku Terjual 43 Miliar, Gile di Indo mah Daging Cuma 80 Juta

Selain itu, untuk kenyamanan para jamaah dia memperbaiki sistem keamanan. Bila di masjid lain mungkin ada jamaah yang takut kehilangan sandal atau sepatu, atau bahkan sepeda motornya, Jazir justru menyatakan bila hal seperti itu sampai terjadi di Jogokariyan maka pengurus akan mengganti barang-barang yang hilang dengan yang baru.

“Pengurus masjid harus mau dan berani mengambil risiko serta menunjukkan jiwa kerelawanan,” ujar Jazir. Dia juga mencontohkan dirinya ikut ambil bagian membersihkan toilet masjid, misalnya.

Bangunan masjid, ia melanjutkan, sebetulnya tak perlu megah sebab yang penting adalah bagaimana memberi manfaat bagi warga sekitar. Kalau ada anak-anak muda yang ingin berwirausaha menjadi pedagang ini-itu, takmir masjid akan memberi bantuan modal dari dana infaq yang terhimpun.

Menjadi pengurus masjid itu, kata Jazir, sebaiknya selalu berpikir bagaimana bisa memberi bukan meminta. Masjid itu harus menghidupi, jangan menjadi beban. “Pengurus masjid jangan mata duitan,” tegasnya.

Karena itu saat pertama kali menjadi ketua DKM pada 1999, dia menghapus daftar para donatur. Langkah itu ditempuh karena Jazir tidak ingin ada pengurus masjid yang datang ke rumah warga untuk meminta sumbangan.

“Itu memalukan, menjatuhkan citra masjid di mata masyarakat. Tidak boleh pengurus masjid itu terlihat seperti peminta-minta kepada siapapun, kata Jazir lantang bersungut-sungut.