kejadiananeh.com

Fenomena Ngelem Rexona “Chroming” di Australia, Sudah 5 orang Tewas Mabuk Ketek Bacin!

Sudah missqueen tapi mau gaya-gayaan, udah gitu hal yang negatif pulak. Fenomena ngelem, mabuk gak modal dengan menghirup atau menghisap lem memang menjadi salah satu ancaman serius selain penggunaan narkoba. Umumnya para tukang ngelem ini remaja dari latar belakang keluarga yang kurang pendidikan, harmonis, meskipun kadang juga para pecandunya ditemukan anak-anak sekolah.

Mirisnya bukan hanya negara Indonesia saja yang mengalami tragedi memilukan ini, tapi negeri tetangga kita Australia juga sudah mewabah ngelem. Hanya saja para remaja disana tidak mempergunakan bahan tiner, cat minyak, bensin, lem aibon, popok bayi ataupun pembalut wanita. Mereka para remaja Australia kerap menggunakan Deodorant alias pewangi ketiak merek Rexona.

Produk kaleng deodoran yang disalahgunakan berserakan di sebuah taman di Brisbane (Queensland).

Fenomena Popok Bayi Direbus Jadi Minuman Oplosan

Obat ketek tersebut tanpa tedeng aling-aling diicep-icep sruputt sampai mereka merasakan nge fly alias halusinasi begok mampus. Tidak main-main korban ngelem obat ketek rexona ini sudah 5 orang dinyatakan tewas. Pada tahun 2015, remaja berusia 16 tahun di Kota Alice Springs meninggal setelah kecanduan Rexona, setahun kemudian remaja 15 tahun di Redcliffe (Queensland). Dan jumlah korban terus menyusul hingga 5 orang yang mati suntuk.

Mengutip dari detik.com, Penyalahgunaan produk seperti Rexona ini disebut sebagai chroming, dimana penggunaannya menghirup bahan kimia yang disemprotkan dari deodoran berbentuk kaleng tersebut, yang bisa membuat penggunanya mengalami ketergantungan.

“Yang pertama, saya merasa sedih mendengar dampak penggunaan produk ini bagi anak-anak, dan dampak penyalahgunaan tersebut oleh mereka yang mengalaminya imbuh Mingl.

“Kami menangani masalah ini dengan serius dan sudah bekerja selama beberapa tahun terakhir untuk mengatasi masalah.”

Mamam nih gaess ketek bacin!

Mingl mengatakan bahwa Unilever sudah mengubah desain kaleng deodoran Rexona tersebut dan juga menghabiskan waktu selama beberapa tahun untuk mengubah komposisi bahan kimia di dalamnya.

Walau sudah menghabiskan Rp 1,5 triliun di bidang penelitian dan pengembangan di Unilever, Mingl mengatakan perusahaan tersebut belum menemukan cara untuk mengubah komposisi kandungan kimia Rexona.

Selain berusaha mengubah desain dan komposisi, Unilever juga mengkhawatirkan bahwa perubahan pada Rexona akan membuat remaja yang menyalahgunakannya beralih ke pestisida dan bahan kimia untuk pembersih.

Unilever juga mengatakan dalam uji yang mereka lakukan, Rexona tidaklah berisi bahan kimia yang berbeda dengan produk deodorant lain.

“Kami sudah melakukan uji terhadap seluruh produk deodoran yang ada di pasar untuk mengetahui mengapa Rexona menjadi pilihan dan secara teknis kami tidak menemukan adanya perbedaan.” kata Scott Mingl.

Kepolisian Queensland dan Asosiasi Peritel Nasional Australia (NRA) sudah mengukuhkan bahwa Rexona adalah produk yang banyak digunakan oleh anak-anak yang melakukan ‘chroming”.

Dominique Lamb, Direktur Eksekutif NRA mengatakan sejauh ini mereka tidak mendapat dukungan apapun dari Rexona.

Polisi menemukan 35 botol kosong Deodorant yang kebanyakan merek Rexona, sisa pakai para pemabuk Chroming

Ludger Sylbaris, Pria Begundal yang Selamat dari Kiamat Gara-gara Air Kencing

“Rexona khususnya kami lihat paling banyak dibeli atau dicuri dari toko.” katanya.

“Yang kami temukan di sejumlah lokasi tumpukan sampai 30 kaleng. Dan di petugas keamanan kami di pusat perbelanjaan menemukan anak-anak yang tampak dalam keadaan ‘teler”.

“Sering kali kami bisa melihat adanya kaleng deodorant ini di saku celana atau jaket mereka, dan tampak sekali mereka tidak menutup-nutupi apa yang mereka lakukan imbuh Lamb bersungut-sungut.