Suku Mante, Manusia Kerdil di Aceh yang Masih Menjadi Misteri Sampai Sekarang

Tidak hanya memiliki jumlah pulau terbanyak di dunia, Indonesia juga memiliki beragam bahasa daerah serta adat dan istiadat dari berbagai suku-suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Dari ujung barat, timur, utara, dan selatan pulau-pulau di Indonesia menghasilkan ribuan suku etnik yang beragam dan unik. Keberagaman itu menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya.

Meskipun memiliki ribuan suku yang tersebar di berbagai wilayah, tanpa bisa dipungkiri masih ada suku-suku tertentu yang punah ataupun masih belum diketahui secara luas oleh masyarakat Indonesia karena beberapa hal tertentu. Salah satu suku yang belum dikenal luas ialah Suku Mante yang tinggal di wilayah Aceh.

Ritual Mumi Asap Suku Angga di Papua Nugini

Jika dilihat dari sisi sejarah, salah satu suku yang mendiami wilayah Aceh adalah Suku Mante. Bagi masyarakat Aceh sendiri, cerita akan Suku Mante tersebar berdasarkan legenda-legenda rakyat yang beredar dan dieja dengan nama Mantir. Suku Mante merupakan awal mula terbentuknya Suku Aceh yang mendiami sebagian besar wilayah Aceh.

Selain Suku Mante, terdapat suku-suku lain yang mendiami Aceh, seperti Suku Sakai, Suku lanun, Suku Semang, dan Suku Jakun yang tinggal di hutan dan diduga telah mengalami kepunahan. Suku-suku tersebut dan termasuk di dalamnya Suku Mante berpindah/migrasi ke Aceh melalui Semenanjung Melayu dan termasuk dalam rumpun bangsa Melayu Proto.

Suku Mante ternyata berasal dari suku yang mendiami wilayah Batak. Hal ini berdasarkan pernyataan Adli Abdullah, seorang sejarawan Aceh yang menuturkan bahwa Suku Mante menyebar dan menetap di pesisir wilayah Aceh. Karena mendiami wilayah Batak tersebut, suku ini memiliki kekerabatan dengan Suku Batak.

Berdasarkan penjelasan tertentu mengungkapkan bahwa Suku Mante dan Suku Batak merupakan nenek moyang dari Bangsa Tiga Ratus (Kawom Lhee Reutoih) yang merupakan penduduk asli Sumatera Utara dan Aceh yang tinggal di wilayah Gunung Leuseur dan pinggiran sungai-sungainya sebelum masuknya Suku Melayu.

Baca juga  Gaya Jenazah Paling Keren sebelum Dikubur

Namun, karena masuknya para pedagang ke wilayah tersebut menyebabkan Bangsa Tiga Ratus tidak mendiami wilayah itu lagi dan mengalami kepunahan.

Berdasarkan penelitian para sejarawan dan antropolog, Suku Mante memiliki ciri fisik yakni berpostur tubuh lebih kecil jika dibandingkan orang Aceh saat ini. Ciri fisik lainnya adalah memiliki rambut yang cukup tebal.

Namun sayangnya, informasi tersebut hanya didasarkan kebada cerita dan pengakuan beberapa masyarakat yang mengaku secara tidak langsung bertemu dengan Suku Mante, sehingga informasi tersebut dinilai tidak konkret.

Adanya fakta bahwa Suku Mante lebih memilih untuk tinggal di hutan dan tidak menyukai pembaruan menyebabkan para peneliti mengalami kesulitan untuk menemukan suku tersebut, sehingga Suku mante diduga telah mengalami kepunahan.

Meskipun minim akan bukti dan hanya tersebar melalui legenda-legenda masyarakat setempat. Namun cerita akan Suku Mante telah terkenal dan diturunkan secara turun-temurun. Salah satu cerita rakyat yang terkenal mengenai Suku Mante adalah berdasarkan cerita Christian Snouck Hurgronje.

Video Penampakan Suku Mante “katanya” :d yang berhasil direkam oleh sekelompok pecinta Motocross

Hurgronje merupakan seorang penasehat Hindia Belanda untuk pribumi yang menyelidiki masyarakat Aceh, yang ketika itu dirinya diutus untuk menaklukan masyarakat Aceh melalui Perang Aceh. Berdasarkan cerita Hurgronje, ada masyarakat Aceh yang bercerita bahwa pada zaman dahulu mereka pernah menemukan sepasang suami istri Suku Mante dan keduanya dibawa ke Sultan Aceh.

Walaupun sepasang suami istri Suku Mante tersebut tidak disiksa ataupun disakiti, namun kedunya menolak untuk makan dan berbicara. Karena hal tersebut akhirnya sepasang suami istri Suku Mante meninggal karena kelaparan. Oleh karena itu, para peneliti berkesimpulan bahwa Suku Mante termasuk suku yang primitif.

Baca juga  Cerita Horor Creepypasta yang Diangkat dari Kisah Nyata

Artikel Kiriman dari Nanda Sukanenen