7 Buku yang Dilarang Beredar di Indonesia

Di era reformasi, kebebasan berpendapat belum sebesar sekarang. Setiap pendapat dan argumen masyarakat diawasi dan dikontrol penuh pemerintah hingga tak jarang masyarakat menjadi korban. Salah satu bentuk aspirasi tersebut juga tertuang dalam sejumlah buku yang sayangnya dilarang untuk diedarkan. Berbagai buku terlarang di Indonesia tersebut dianggap menularkan ide pemberontakan kepada pemerintah ketika itu.

Bahkan, jika dihitung secara keseluruhan setidaknya ada 200 buku yang disimpan lantaran dianggap membahayakan. Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer bukanlah nama asing di mata para sastrawan hingga masyarakat luas. Setiap karyanya dikenal apik seperti Bumi Manusia, Rumah Kaca, Jejak Langkah hingga Anak Semua Bangsa. Hingga saat ini, sang sastrawan tak pernah kehilangan penggemarnya, meski karyanya tersebut pernah dilarang untuk beredar.

Pramoedya Ananta Toer memang dikenal dengan tulisan kritis sehingga kerap menuai kecaman dan dicekal sebut saja Keluarga Gerilya, Perburuan, Pertjikan Revolusi, Hoakiuau, Gulat di Djakarta dan masih banyak lagi. Ada belasan buku yang menjadi kontroversi ketika itu meski saat ini sudah banyak dijadikan sebagai rujukan buku kuliah di Universitas Queen Mary London.

2. Sahabat, Agam Wispi

Serupa dengan Pram, buku milik Agam Wispi juga sempat bernasib sama karena dilarang dibaca sekitar tahun 1959. Buku berjudul Sahabat ini diterbitkan langsung oleh Lekar pada awal masa kemerdekaan. Pencekalan langsung dilakukan oleh Pembantu Menteri P.D dan K Bidang Teknis Pendidikan, Kol Drs M Setiadi Kartohadikusumo.

Bukan hanya satu karya yang dibekukan saat itu, ada juga buku lain berjudul Yang Tak Terbungkam, Nasi dan Melati hingga Matinja Seorang Petani.

3. Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978

Pada tahun 1978, Dewan Mahasiswa ITB dikeluarkan dengan judul Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978. Sayangnya, karya ini langsung dicekal lantaran memuat sejumlah informasi dan indikator mengenali gagalnya kepemimpinan Soeharto.

4. Wawancara Imajiner dengan Bung Karno, Christianto Wibisono

Tepatnya di tahun 1978, buku berjudul Wawancara Imajiner dengan Bung Karno karya Christianto Wibisono dilarang beredar. Karya tersebut secara keseluruhan berisi tentang wawancara eksklusif dengan sang presiden sebagai sosok imajiner. Ia banyak menyampaikan opininya mengenai berbagai kasus dan kejadian di Indonesia.

Salah satu yang dibahas adalah masa awal kemerdekaan hingga kondisi negara ketika itu dan dianggap mampu membuka paradigma baru masyarakat. Namun seiring waktu, karya tersebut akhirnya bisa diedarkan hingga cetakan kedua pada tahun 2021 dikeluarkan, sama dengan keluaran 1977.

5. Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman, A.H Nasution

Berikutnya adalah karya dari Unipress yang dicekal langsung oleh Kejaksaan Agung di tahun 1984. Dalam karya tersebut, Tingkah Laku Panglima Besar Soedirman lebih condong kepada biografi ala pimpinan tanpa catatan khusus sama sekali. Bahkan, beberapa tulisan menggunakan nama A.H Nasution untuk ditampilkan di depan supaya bisa membuat kumpulan teks lebih aman.

6. Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, Peter Dale Scott

Berbeda dengan buku asal penulis nasional sebelumnya. Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno ditulis langsung oleh sastrawan asal Kanada, Peter Dale Scott. Bukan tanpa alasan karyanya dicekal, lantaran dianggap bernada provokasi hingga kekerasan oleh militer Indonesia yang bekerjasama langsung dengan Amerika, Jerman hingga Jepang pada tahun 1965.

7. Di Bawah Lentera Merah, Soe Hok Gie

Di Bawah Lentera Merah, Sore Hok Gie menuliskan mengenai satu periode krusial pada sejarah kelam Indonesia. Ada berbagai gagasan sebagai usaha untuk ikut serta dalam organisasi, hingga mengajak pembaca menyalakan lentera merah sebagai bentuk perjuangan baru dan mencermati tokoh pergerakan tradisionalis Indonesia dalam perubahannya di abad ke-20.

Buku ini dilarang keras oleh Kejaksaan Agung pada tahun 1991, lantaran dianggap memberi doktrin provokasi terutama bagi para generasi muda. Kendati demikian, Di Bawah Lentera Merah sudah bisa dibaca saat ini dan memiliki izin edar secara resmi hingga menjadi bahan bacaan para mahasiswa.

Itulah berbagai daftar buku yang dilarang beredar di Indonesia, jika kamu tertarik membaca buku terlarang di Indonesia tak perlu khawatir karena karya tersebut saat ini sudah bisa dibaca baik offline maupun online di berbagai platform.