7 Eksperimen Mengerikan pada Tahanan Penjara

Normalnya eksperimen dilakukan di laboratorium menggunakan objek benda mati ataupun hewan. Namun, bagaimana jika eksperimen tersebut dilakukan pada objek hidup, yakni tahanan penjara? Simak beberapa eksperimen mengerikan pada tahanan penjara berikut ini.

1. Radiasi diberikan pada 232 narapidana

Para peneliti asal Universitas Washington secara sengaja membiarkan 232 tahanan terkena radiasi. Hal ini bertujuan agar mereka dapat mengetahui dampaknya pada testikel. Dari percobaan tersebut, saat para tahanan terbebas kemudian memiliki anak, ada sedikitnya 4 anak lahir dalam kondisi cacat. Sayang, melihat dampak tersebut, tidak ada penelitian lanjutan yang dilakukan.

2. Percobaan transplantasi testikel

Melihat judulnya saja pasti para pria akan langsung merasakan ngilu. Pada tahun 1919 hingga 1951, sebuah percobaan dilakukan di penjara San Quentin oleh Dr. Leo Stanley selaku kepala ahli bedah. Ia mempraktikkan ini sebanyak 500 kali dengan tujuan menekan angka kriminalitas. Sayangnya, niatan tersebut justru juga bisa dianggap sebagai bentuk kriminal.

Eksperimen ini dilakukan dengan memindahkan testikel tahanan yang sudah dieksekusi ke testikel tahanan hidup. Namun, pada beberapa kasus ia kadang menggunakan sampel testikel kambing maupun babi. Ia menganggap apabila testosteron meningkat, narapidana akan menjadi orang lebih baik.

3. Malaria

Tahanan di penjara Stateville harus rela dijadikan objek percobaan para peneliti. Selama lebih dari 30 tahun, mereka sengaja dijangkitkan virus malaria. Setelah digigit sekitar 10 kali oleh nyamuk penginfeksi, mereka mulai mengalami sakit kepala, mual, mengigau, serta demam.

Setelah itu, obat yang masih dalam eksperimen mengobati penyakit diberikan. Hasilnya justru sebaliknya. Beberapa kondisi tahanan justru menjadi lebih parah bahkan terkena serangan jantung. Penelitian tidak manusiawi tersebut memang sengaja dilakukan guna menemukan obat malaria paling efektif untuk selanjutnya diterapkan pada militer.

4. Tahanan Unit 731

Bertujuan membuat sebuah senjata pemusnah massal, negeri berjuluk Matahari Terbit melakukan eksperimen mematikan pada narapidana di Unit 731. Lebih dari 500.000 narapidana harus menjadi alat percobaan. Kejamnya, banyak yang tewas karena efek percobaan tersebut atau dieksekusi mati setelahnya.

Eksperimen ini berupa penyuntikan penyakit mematikan pada korban, memotong bagian tubuh tanpa bius, hingga menjadi target bom. Hingga akhirnya di akhir perang dunia kedua, ilmuwan yang bertanggung jawab atas penelitian tersebut dibebaskan dari hukuman karena bersedia memberikan hasil penelitian pada pihak Amerika.

5. Eksperimen orang kembar

Satu lagi eksperimen ekstrem dilakukan kepada para narapidana. Dr. Josef Mengkele dari kampus konsentrasi Auschwitz, dengan sengaja melakukan eksperimen ke lebih dari 1.000 pasangan kembar. Hal ini bertujuan untuk menemukan bagaimana cara melipatgandakan kaum Jerman. Ia menjahit pasangan kembar menjadi satu. Akibatnya, badan pasangan tersebut membusuk dan tewas.

Selain percobaan di atas, Dr. Josef juga melakukan beberapa hal sadis seperti penyuntikan bola mata korban dengan tujuan mengganti warna mata mereka atau melakukan transfusi darah dari satu pasangan kembar ke pasangan lainnya. Setelah percobaan berakhir, mereka dibunuh dan jasadnya dibedah serta dibandingkan.

6. Sifilis

Meskipun sudah dilakukan cukup lama, eksperimen ini baru terbongkar pada tahun 2010. Dikabarkan bahwa para dokter di Guatemala, Amerika, membayar para pekerja seks komersial yang sudah terinfeksi sifilis agar bercocok tanam dengan tahanan masih sehat. Bahkan, ada beberapa tahanan langsung diberikan suntikan penyakit menular tersebut.

Eksperimen ini dilakukan dengan tujuan melihat bagaimana efek penicillin pada penyakit seks tersebut. Dampaknya, banyak narapidana mengalami sakit jantung, depresi, buta, hingga meninggal.

7. The Chamber

Terakhir, kasus eksperimen pada narapidana dilakukan di Uni Soviet. Para tahanan secara sengaja diberikan racun-racun mematikan. Tujuannya masih sama, yakni melakukan uji coba bahan kimia tidak berbau dan berasa sehingga tidak bisa dideteksi dalam proses autopsi. Racun disisipkan pada makanan tahanan. Percobaan ini mempunyai peran cukup besar dalam penemuan racun C-2, sebuah racun mematikan dan dapat membunuh hanya dalam waktu belasan menit saja.

Itulah beberapa eksperimen pada tahanan yang pernah dilakukan. Meski harus bertanggung jawab atas kesalahannya, namun menjadikan narapidana sebagai objek penelitian ini dapat dikatakan sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia terlepas apapun tujuannya.